Cerita Dr. Ewing George Thomson :
Dr. Ewing George Thomson adalah pejabat kesehatan kota
Bundaberg, pada bulan January tahun 1928 kota itu mengadakan kampanye untuk
mencegah penyakit difteri dengan
menyuntikan TAM (campuran toksin dan antitoksin) 10 ml vaksin multidose yang
tersedia dalam botol/vial bertutup
karet.
Suntikan berturut turut pada tanggal 17, 20, 21 dan 24 January
pada 21 orang anak tanpa efek samping apapun.
Pada suntikan tanggal 27 January untuk 21 anak, maka
sebanyak 11 anak meninggal pada keesokan harinya yaitu tangggal 28 January.
Penyelidikan yang
dilakukan berhubung kasus ini menunjukkan bahwa suntikan pada 27 January ternyata vaksin multidose tealh tercemar dengan bakteri Staphylococcus hidup yang
meyebabkan kematian anak2 tersebut.
(The Hazards of
Immunization, sir Graham S Wilson)
Semenjak kejadian tersebut, maka produser vaksin berusaha
mencari zat pengawet dan zat antiseptik untuk vaksin yang mereka produksi,
teruatama untuk vaksin multidose, yaitu satu botol atau satu vial vaksin bisa
dipakai untuk vaksinasi sejumlah anak.
Saat ini pengawet / preservative dan zat antiseptik yang dipergunakan
oleh produsen vaksin didunia adalah :
•
Thimerosal
•
2 phenoxyethanol dan formaldehide
•
Phenol
•
Benzothonium
chloride
•
2
phenoxyethanol
(FDA files\FDA-CBER – Thimerosal in Vaccine 6/20/2007)
Sejarah pemakaian
Thimerosal dalam produksi vaksin:
Sejak tahun 1930 perusahaan Eli Lilly memperkenalkan pemakaian Thimerosal sebagai pengawet / preservative dalam
produknya yang kemudian dipergunakan secara luas oleh produser lain hingga saat
ini :
-
immunoglobulin,
vaksin (kandungan Thimerosal sekitar 0.003 % - 0.01
%)
-
Anti
bisa ular (venin), antigen untuk test
kulit dan produk biologik
-
Produk untuk obat mata dan hidung
-
(FDA files\FDA-CBER – Thimerosal in Vaccine 6/20/2007)
Thimerosal sebagai
Preservative dalam Vaccines :
•
Preservative
berfungsi sebagai :
- bacteriostatik / bacteriosid (menekan pertumbuhan bakteri
atau membunuh bakteri)
- fungistatik (menekan pertumbuhan
jamur)
•
Di pergunakan dalam proses produksi vaksin
•
Vaksin multidosis (satu botol /
vial vaksin untuk vaksinasi beberapa orang sekaligus)
Maksud pemberian Thimerosal dalam hal ini :
•
Menjaga sterilitas proses produksi dan produk vaksin
•
Menjaga stabilitas, kualitas dan efikasi vaksin
(World Health Organization Technical Report Series, No. 926. 2004)
Terminologi :
Sejak merebaknya issue vaksin MMR dengan timbulnyya Autisme
pada bayi yang diungkapkan oleh Dr. Andrew Wakefield pada tahun
1998 (Lancet Med.Jour), meskipun belum terbukti adanya korelasi positif antara Thimerosal yang
dipergunakan sebagai preservative dalam vaksin dengan timbulnya Autisme, tetapi
semenjak itu banyak produsen vaksin dunia berlomba lomba untuk meneliti
pembuatan vaksin tanpa menggunakan Thimerosal atau memakainya dalam jumlah yang
sangat minimal untuk produk vaksin mereka.
Sehingga saat ini kita dapat menemukan beberapa jenis vaksin
dengan kriteria konsentarsi Thimerosal yang berbeda beda, tapi semuanya dalam konsentrasi yang minimum, sesuai dengan rekomendasi WHO dan FDA.
Berikut ini adalah beberapa terminologi yang dipergunakan
untuk menggambarkan seberapa banyak konsentrasi Thimerosal yang terkandung
dalam vaksin yang dimaksud.
•
Thimerosal yang telah di eliminasi / dibersihkan
-
Bila kita mendapatkan keterangan
seperti ini, artinya Thimerosal tidak dipergunakn dalam
setiap tahapan produksi
vaksin tersebut.
Sehingga produk vaksin demikian bisa kita katakan adalah Vaksin Bebas
dari
Thimerosal atau Thimerosal Free Vaccine
(World Health Organization Technical Report Series, No. 926. 2004)
•
Thimerosal yang di kurangi jumlahnya / Reduction of Thimerosal
- Thimerosal dipakai pada beberapa tahapan proses produksi vaksin ,
hanya dalam jumlah
yang relatif
kecil dibandingkan dengan vaksin yang telah ada, dan pada vaksin tersebut
sebagai produk
akhirnya masih akan ditemukan Thimerosal dalam jumlah yang sangat kecil
/ trace amount
Maka vaksin
demikian tetap digolongkan sebagai Vaksin dengan kandungan
Thimerosal
(World Health Organization Technical
Report Series, No. 926. 2004)
•
Thimerosal yang telah dibersihkan / Removal of Thimerosal
- Thimerosal pernah
dipergunakan dalam tahapan produksi vaksin, meskipun setelah itu
Thimerosal
dibersihkan dari kandungan vaksin dengan memakai proses pembersihan
tertentu, namun tetap
dijumpai jumlah sangat kecil / trace amount Thimerosal dalam vaksin
tersebut.
Vaksin
demikian tetap dikategorikan sebagai Vaksin dengan kandungan Thimerosal
(World Health Organization Technical
Report Series, No. 926. 2004)
•
Penggantian Thimerosal dengan zat
preservative lain / Replacement
of Thimerosal
- tidak ada Thimerosal yang
dipergunakan dalam prosses produksi vaksin, melainkan
memakai zat
preservative lain sebagai pengganti Thimerosal.
Vaksin ini
dikategorikan sebagai vaksin bebas Thimerosal
Karena mengandung
preservative lain sebagaai pengganti Thimerosal, sehingga diperlukan
waktu untuk
mengkaji dan menguji keamanan dan
efektifitas zat penggant baru ini
Demikian juga
halnya untuk keamanan dan efektifitas
vaksin tersebut.
(World Health Organization Technical
Report Series, No. 926. 2004)
Yang dimaksud trace amount yaitu: bila kandungan thimerosal adalah sama dengan atau kurang dari 1 mikrogram perdosis vaksin
(How does FDA evaluate vaccines to make sure they are safe? Page Last Updated: 04/30/2009)
(How does FDA evaluate vaccines to make sure they are safe? Page Last Updated: 04/30/2009)
Batas aman pemaparan methylmercury (menurut standard EPA dan WHO) :
•
0.1µg / kg bw / day (EPA) – 0.47µg / kg bw / day (WHO) (bw = body weight)
Reference:
- US Environmental Protection Agency (Mahaffey
et al 1997)
- US Agency for Toxic Substances and Disease
Registry (ATSDR 1999)
- US FDA (Federal Register 1979)
- World Health Organization (WHO 1996)
•
Sebagai
contoh, bila Vaksin mengandung 0.01 w/v % thimerosal sebagai
preservative, ini
berarti:
Mengadung 50 µg thimerosal / 0.5
mL dosis, atau
Sekitar 25 µg methylmercury / 0.5 mL dosis (49.6 % mercury)
(US
Pharmacopeia 2004)
Pengaruh dari
penghilangan, pengurangan atau mengganti Thimerosal terhadap vaksin:
•
Mempengaruhi
keamanan dan sterilitas, stabilitas dan efikasi / imunogenisitas dari vaksin
tersebut (Thimerosal sebagi zat preservative / inaktivasi)
•
Mempengaruhi
sterilitas jalur produksi vaksin dalam pabrik (Thimerosal sebagai preservative)
•
Diperlukan
evaluasi ulang kasus demi kasus untuk hal kemanaan, stabilitas dan kualitas
vaksin (pihak Regulatory pendaftaran obat dan vaksin)
(World Health Organization Technical Report Series, No. 926. 2004)
Mengapa sampai saat
ini masih ada vaksin yang diproduksi dengan kandungan minimal Thimerosal
sebagai preservative ?
Hal ini disebabkan
oleh beberapa faktor :
1. Untuk begitu saja menghilangkan penggunaan
Thimerosal sebagai preservative adalah suatu hal yang memerlukan pertimbangan dan
kajian ilmiah farmakologi yang rumit dan panjang, karena pengurangan atau
penambahan suatu zat aktif dalam vaksin akan mempengaruh stabilitas vaksin,
keamanan vaksin dan yang terpenting juga
efektifitas vaksin tersebut.
2. Memerlukan biaya, waktu yang tidak sedikit dan sumber daya
manusia dan lain lain yang terkait dengan harga jual vaksin yang tinggi nanti dipasar

Tidak ada komentar:
Posting Komentar