Bekerja dari Rumah Bebas Stress

Travaga - HorizontalSmall

Jumat, 03 Agustus 2012

Catatan Pribadi Saya Tentang Gerakan Anti Vaksin dan Vaksinasi

Catatan pribadi saya :


Saya membaca berita tentang MenKes RI Ibu N Mboi yang merasa kuatir akan keberhasilan program vaksinasi Hepatitis B di Indonesia dikarenakan adanya gerakan atau semacam propaganda tidak bertanggung jawab dari segelintir masyarakat yang mengaku 'ahli' atau 'tahu banyak tentang baik buruk vaksin dan vaksinasi'.

Saya merasa miris, gemas dan juga marah terhadap kelompok orang demikian, sebetulnya mereka ini dalam lubuk hatinya juga tahu betapa pentingnyya program vaksinasi bagi bayi dan anak mereka, dan juga bagi orang dewasa dan orang berusia lanjut, dan mereka sendiri sudah mendapatkan manfaat vaksin dan vaksinasi, namun karena motif dan tujuan tertentu, mereka meniup-niupkan berita bohong dan tidak bertanggung jawab kepada anggota masyarakat yang tidak mengerti atau yang minim akses tentang informasi kesehatan preventif, dan termakan isu bohong dan tidak bertanggung jawab ini.

Seperti tulisan saya tentang Manfaat Vaksin dan Vaksinasi bagi Bayi Anak Orang Dewasa dan Usia Lanjut, di website www.selukbelukvaksin.com, jelas jelas begitu banyak bukti dan fakta yang memperlihatkan dengan gamblang dan nyata betapa baik dan bermanfaatnya program vaksinasi terhadap pencegahan penyakit infeksi yang dapat kita cegah dengan mudah hanya dengan vaksinasi saja selain anjuran hidup sehat.

Banyak penyakit berbahaya yang telah berhasil dikontrol dan dikendalikan kejadian epidemiologinya, seperti misalnya penyakit cacar, penyakit polio, rabies dan penyakit infeksi lainnya.

Himbuaan saya bagi para Orang Tua :

1. Vaksinasi dan keputusan ingin divaksinasi adalah hak asasi setiap manusia merdeka, jadi jangan kita sebarakn berita bohong dan tidak bertanggung jawab untuk mempengaruhi, menghambat dan menggagalkan program kesehatan masyarakat pemerintah ini. Jadilah warga negara yang bertanggung jawab, yang bisa dan kompeten memutuskan semua ini adalah Departement Kesehatan RI beserta jajaran tenaga ahinya dan dunia kedokteran Indonesia. Sebagai warga negara yang baik, kita ikuti dan patuhi anjuran dan program kesehatan yang telah ditentukan bagi kita di negara RI ini.

2.  Semua tindakan kesehatan tentu ada manfaat juga resikonya, tapi dalam tangan orang yang ahli seperti dokter juga tenaga kesehatan lain yang sudah terlatih, maka semua resiko dan bahaya, bila adapun, akan dihindari dan dicegah kejadiannya, sambil  memaksimalkan manfaatnya.

3. Pemerintah Republik Indonesia, dalam hal ini Depertemen Kesehatan dan jajarannya, juga semua profesi kedokteran Indonesia tentu tidak akan mengorbankan anak bangsa Indonesia dengan suatu program yang tidak bertanggung jawab dan berbahaya. Jadi janganlah begitu naif dan berprasangka buruk terhadap kebaikan dan manfaat program imunisasi ini.

4. Diseluruh dunia semua negara giat menganjurkan program vaksinasi untuk warganegaranya, tujuannya tentu untuk meningkatkan derajat kesehatan dan kesejahteraan bangsa dan negaranya,bukan bertujuan mencelakakan bangsanya sendiri, karena dengan pencegahan penyakit, maka tingkat kesehatan dan kesejahteraan masyarakat bisa ditingkatkan, pada  gilirannya bangsa dan SDM menjadi kuat dan tangguh

5. Dalam dunia ilmiah, khususnyaa kedokteran, untuk mengatakan bahwa sesuatu tindakan itu berguna atau berbahaya,  diperlukan proses pengujian dan pembuktian  yang teliti, terencana, transparant, bisa dibuktikan dengan gamblang dan ilmiah. Demikian juga halnya tentang issu bahaya vaksin dan vaksinasi. Kita tentu tidak bisa hanya melihat satu kasus, misalnya kasus terakhir di Italia, yang pengadilan setempat memberi keputusan bahwa thimerosal vaksin penyebab autisme bayi, lalu membenarkan bahwa semua kasus autisme adalah karena thimerosal dalam vaksin.
Seperti orang bijak berkata, bahwa One swallow does not make a summer - yang artinya kita tidak bisa menarik kesimpulan yang pasti hanya karena adanya suatu bukti saja.

6. Banyak juga publikasi tentang autisme bayi yang tanpa pemberian vaksin apapun sebelumnya, namun tetap terjadi autisme, kenapa kelompok anti vaksin tidak mengatakan dan juga mempropagandakan hal ini kepada masyarakat ?
Banyak kejadian autisme bayi yang tidak mendapatkan vaksin sebelumnya atau diberikan vaksin yang bebas thimerosal, namun frekuensi autisme tidak menurun meskipun pemberian vaksin telah dihentikan, misalnya yang terjadi dinegara Skandinavia, begitu ada publikasi hubungan thimerosal dan autisme bayi, negara negara kawasan Skandinavia segera menhentikan pemberian vaksin dengan kandungan thimerosal, namun terbukti angka frekuensi  bayi dengan kelainan autisme tidak berkurang atau menurun, bahkan meningkat terus.  
Hal ini membuktikan bahwa autisme tidak hanya karena vaksin, namun ada faktor lain yang juga mempengaruhi terjainya autisme pada bayi dan anak. Ini yang harus kita teliti lebih lanjut, bukannya kita mengeruhkan suasana dan membutakan mata dan hati kita, tidak mau melihat fakta dan kenyataan ini.

7. Bagi mereka yang klaim bahwa anaknya tetap sehat meskipun tanpa diberikan vaksinasi, itu sebetulnya karena anak mereka terlindung oleh yang dsebut "kekebalan kelompok" atau "herd immunity", yaitu anak tersebut berada dalam sekelompok besar orang yang telah kebal terhadap suatu penyakit, sehingga kuman atau bibit penyakit tidak bisa berkembang dan menuar kepada orang sekitarnya yang sebetulnya tidak kebal karena tidak pernah divaksinasi.
Kekebalan kelompok atau Herd Immunity ini bisa dicapai bila dalam suatu masyarakat atau sekelompok orang, bila yang kebal atau yang divaksinasi mencapai 80% atau bahkan lebih, maka sisa orang yang tidak divaksinasi akan tetap terlindung dari penularan penyakit infeksi karena efek proteksi dari kekebalan kelompok atau Herd Immunity ini.

8. Dalam Konvensi Hak Anak dan Undang Undang Perlindungan Anak, tercantum bahwa kesehatan adalah hak asasi anak dan menjadi kewajiban orang tua untuk mengusahakannya.
Diluar sana, bila ada orang tua yang dengan sengaja lalai menjalankan tugas ini, mereka akan mendapatkan sanksi hukum dari negara.

9. Harapan saya adalah, bahwa masih banyak orang tua dan anggota masyarakat yang rasionil, yang yakin dan percaya sepenuhnya bahwa vaksin dan vaksinasi adalah program pemerintah yang baik, bertanggung jawab, baik secara moral maupun secara ilmiah, yang bermanfaat nyata untuk menjaga kesehatan dan kesejahteraan bayi anak orang dewasa dan orang usia lanjut, bagi kesehatan masyarakat, bangsa dan negara. 

Kamis, 31 Mei 2012


Kontroversi Vaksin MMR 

(Bagian Pertama)

Masalah kontroversi vaksin MMR merupakan pelanggaran ilmiah yang memicu ketakutan dan heboh dalam dunia kesehatan, khususnya dalam bidang vaksin dan vaksinasi untuk bayi dan balita. Ini terjadi akibat publikasi hasil penelitian dr. Andrew Wakefield di majalah kedokteran bergengsi Lancet tahun 1998 yang memperlihatkan bahwa gangguan spektrum autisme yang bisa ditimbulkan oleh vaksin MMR, vaksin yang bisa dipakai untuk mencegah penyakit campak, gondongan dan campak Jerman. [1]

 Investigasi oleh jurnalis Sunday Times, Brian Deer, mengungkapkan bahwa penulis utama dari hasil penelitian ini, dr. Andrew Wakefield, menyimpan beberapa konflik interest yang tidak diungkapkan,[2][3] telah melakukan manipulasi fakta fakta,[4] dan melanggar kode etik kedokteran. Majalah Lancet telah menarik sebagian dari hasil penelitian ini pada tahun 2004 dan akhirnya menarik sepenuhnya terbitan karangan dr. Andrew Wakefield pada tahun 2010, dan dr. Wakefield telah dinyatakan bersalah oleh General Medical Council (semacam Majelis Kehormatan Etik Kedokteran) dengan melakukan kesalahan profesional yang serius bulan Mei 2010, sehingga dikeluarkan pendaftaran keanggotaan kedokteran Inggris, yang berarti bahwa dr. Wakefield tidak diperbolehkan melakukan praktek kedokterannya lagi di Inggris.[5]

Hasil penelitian dr. Wakefield dinyatakan sebagai penipuan oleh BMJ tahun 2011.[6] Konsensus Konsil ilmiah menyatakan bahwa tidak ditemukan bukti yang menyatakan adanya hubungan antara vaksin dengan terjadinya autisme, dan bahwa kegunaan vaksin tersebut jauh melebihi resiko yang mungkin ditimbulkannya.


Segera setelah penelitian dr. Wakefield dipublikasikan pada tahun 1998, maka banyak ilmuwan dan scientis segera melakukan penelitian ulang dengan penelitian epidemiologi yang berskala besar. Review bukti semua penelitian tersebut oleh CDC (Central for Disease Control and Prevention) Amerika,[7], the American Academy of Pediatrics, the Institute of Medicine of the US National Academy of Science,[8] the UK National Health Service[9] and the Cochrane Library[10], semua badan tersebut menemukan tidak ada kaitan antara vaksin dengan autisme. Sementara hasil review the Cochrane menyatakan perlunya meningkatkan rancangan dan pelaporan segi keamanan bagi semua penelitian vaksin MMR,badan ini juga menyimpulkan bahwa bukti keamanan dan efektifitas vaksin ini untuk penyakit dengan angka kesakitan dan kematian yang sedemikian tinggi dapat dibenarkan dan diterima untuk pemakaian vaksin ini secara luas, bahwa kurangnya kepercayaan masyarakat terhadap vaksin ini telah menimbulkan kerugian kesehatan masyarakat [10]

Sebuah badan pengadilan yang dibentuk di Amerika Serikat untuk menilai tuntutan yang diatur oleh National Vaccine Injury Compensation Program, telah menolak tuntutan ganti rugi untuk orang tua yang anaknya menderita autisme. [11][12] sehubungan dengan penggunaan vaksin MMR sebelumnya.

Hasil peneitain dr. Wakefield yang diterbitkan oleh majalah kedokteran Lancet pada athun 1998, telah disebarluaskan sedemikian rupa,[13] menimbulkan heboh dan keraguan akan manfaat dan keamanan vaksin MMR dan menyebabkan angka vaksinasi di Inggris dan Irlandia menurun dengan tajam,[14] yang pada gilirannya menyebabkan peningkataan drastis angka kejadian penyakit campak dan gondongan, yang berakhir dengan kematian dan kerusakan serius yang permanen.[15]

Asosiaasi kedokteran Inggris Amerika dan Eropa, journal kedokteran kaliber dunia kondang dan para editor [16][17][18][19][20] telah membuat pernyataan yang menghubungkan / mengkaitkan tindakan penipuan dr. Wakefield dengan terjadinya beberapa epidemis dan kematian akibat penyakit campak - campak Jerman - gondongan,[21][22] dan sebuah jurnal tahun 2011 yang menulis tentang hubungan vaksin – autisme merupakan” lelucon kedokteran yang paling merugikan selama 100 tahun terakhir ini” [23]

Kamis, 10 Mei 2012


Siapa Dr. Andrew Wakefield ?

Nama lengkap Andrew Jeremy Wakefield yang lahir pada tahun 1957, adalah seorang dokter dan peneliti kedokteran , yang dikenal dengan pernyataan bahwa ada kaitan antara vaksin campak, gondongan dan campak Jerman (vaksin MMR) dengan kejadian autisme dan penyakit saluran pencernaan, dan hasil penelitiannya (yang data medisnya dipalsukan) pada tahun 1998 yang dipakai untuk mendukung pernyataannya tersebut.[1]

Empat tahun setelah publikasi hasil penelitainnya, para peneliti yang lain masih tidak berhasil mengulang hasil temuan Dr. Wakefield dan konfirmasi dugaannya bahwa ada hubungan antara gangguan saluran pencernaan masa kanak kanak dengan autsme.[2]

Pada 2004, jurnalis investigasi dari Sunday Times bernama Brian Deer berhasil mengungkapkan adanya  keterlibatan kepentingan finansial  Dr. Andrew Wakefield,[3] dan karena itu maka sejumlah  rekan sepenelitiannya menarik kembali dukungan mereka ter hadap penafsiran hasil penelitain Dr. Andrew Wakefield.[4]

Majelis Kedokteran Inggris mengadakan penyelidikan kesalahan tindakan terhadap Wakefield dan dua orang koleganya.[5] Investigasi ini terutama terpusat pada beberapa temuan Brian Deer, termasuk satu anak penderita autisme yang dilakukan tindakan medis invasif,[6] seperti kolonoskopi dan pungsi lumbar, dimana Wakefield bertindak tanpa mendapatkan persetujuan dari badan pengawas / review board sebelum melakukan tindakan tersebut   

 Pada 28 January 2010, Dewan yang terdiri 5 orang ahli dari Majelis Kedokteran Inggris menemukan sejumlah besar tuduhan, termasuk 4 hal yang menyangkut tindak ketidakjujuran dan 12 hal yang menyangkut penyalahgunaan penanganan anak yang mengalami kelainan pertumbuhan.[7]Dewan ini menyatakan bahwa Wakefield telah gagal dalam menjalankan tugasnya sebagai dokter konsultan yang bertanggung jawab, telah bertindak melawan kehendak para orang tua anak dan ketidak jujuran dan tak bertanggung jawab dalam publikasi hasil penelitiannya.[8][9][10]     

Pada tahun 1998 Majalah kedokteran Lancet  telah menarik kembali publikasi hasil penelitianWakefield atas dasar temuan Majelis Kedokteran Inggris , yang menyatakn bahwa data dan fakta dalam manuskrip telah di palsukan.[11]

Wakefield telah dicabut keanggotaannya dari komunitas kedokteran Inggris pada bulan Mei 2010,dengan pernyataan ketidakjujuran dan pemalsuan dalam penelitian yang diterbitkan di majalah kedokteran bergengsi Lancet,[12] dan dilarang menjalankan profesi kedokterannya di Inggris, yang kemudian disusul dengan larangan serupa terhadapnya di Amerika Serikat.[13]


Januari 2011, sebuah editorial yang menyertai karangan Brian Deer dalam British Medical Journal (BMJ), menunjukkan bahwa penelitian Wakefield adalah penipuan yang rapi.[1][14][15]. Penelitian Wakefield dan rekomendasi untuk umum menentang pemakaian vaksin kombinasi MMR telah menyebabkan penurunan sangat tajam pada angka jumlah vaksinasi di Inggris  dan peningkatan kasus campak, yang menyebabkan terjadinya sakit yang serius dan kematian.[18][19][20]

Sedangkan Wakefield tetap bertahan bahwa penelitiannya tidak ada unsur2 penipuan, kebohongan ataupun bertujuan untuk keuntungan finasial.[21][22]

Pada kenyataannya, Dr. Andrew Wakefield sendiripun tidak bisa mengulang hasil penelitiannya dalam upaya membuktikan kebenaran dugaannya dan sekaligus menangkis badai kritik terhadap publikasi hasil penelitiannya, sehingga hampir sebagian besar teman penelitiannya menarik nama dan dukungan mereka dari penelitian tersebut pada tahun 2004,terutama setelah mengetahui bahwa Dr.  Andrew Wakefield telah menerima sejumlah uang bayaran dari biro hukum yang akan menuntut perusahaan pembuat vaksin – suatu konflik kepentingan yang serius yang ditutupi oleh Dr. Wakefield terhadap umum. Setelah debat kontroversial sekian tahun, dan dengan investigasi yang teliti, maka majalah Lancet, majalah kedokteran yang sangat bergengsi, yang pernah menerbitkan hasil penelitian Dr. Wakefield, telah menarik kembali terbitan tersebut bulan Februari 

 Rangkaian tulisan yang dilancarkan oleh jurnalis investigasi Brian Deer, mengungkapkan bahwa Dr. Wakefield telah dibayar untuk mengolah data, memalsukan catatan medis anak anak tersebut dan mengolah semua itu menjadi suatu gambaran menyesatkan yang diperlukan oleh para ahli hukum untuk menuntut perusahaan pembuat vaksin dan menciptakan rasa panik masyarakat terhadap vaksinasi. Suatu tindakan yang sangat merugikan masyarakat dan sangat tidak bertanggung jawab sebagai seorang dokter dan ilmuwan.


Menurut British Medical Journal (BMJ), Dr. Wakefield telah menerima lebih dari 435,000 poundsterling atau setara dengan USD 674,000.- dari para ahli hukum.






Seorang peneliti lain Godlee mengatakan bahwa dari 12 kasus yang dilaporkan Dr. Wakefield dalam penelitiannya, lima anak telah mempunyai masalah pertumbuhan sebelum menerima vaksin MMR, dan 3 anak lainnya bahkan tidak pernah menderita autisme.

 “sulit untuk mengungkapkan pemalsuan yang menyangkut orang yang berbohong dalam ilmu pengetahuan” kata Godlee “namun semua itu penyebabnya adalah motif keuangan, baik yang dibayarkan oleh para ahli hukum ataupun bantuan resmi yang diterima dari skema finansial karena dia telah melakukan pemeriksaan dan uji diagnostik autisme dan masalah lain yang berkaitan dengan vaksin MMR”.



 Tetapi menurut pengakuan Dr. Wakefield kepada CNN bahwa dugaan kaitan antara vaksin MMR dan autisme “adalah berasal dari para orang tua anak, bukan dari saya” dan hasil penelitiannya “tidak ada tujuan dengan tuntutan secara hukum”

Sejak diterbitkan, hasil penelitian yang merugikan dan sangat menghebohkan ini telah menyebabkan penuruan yang sangat drastis angka vaksinasi yang dapat mencegah penyakit campak, gondongan dan campak Jerman. Angka vaksinasi di Inggris menurun hingga 80% pada tahun 2004, dibarengi dengan peningkatan drastis angka kejadian penyakit campak yang meningkat tajam pada masa tersebut.  




 Di Amerika Serikat, pada tahun 2008 lebih banyak kasus campak yang dilaporkan daripada angka kejadian setiap tahun sejak tahun 1997, menurut pernyataan dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika .  Lebih dari 90% anak anak yang terinfeksi penyakit tersebut, belum pernah divaksinasi atau status riwayat vaksinasinya tidak jelas, menurut laporan CDC Amerika yang menanggapi kehebohan vaksin MMR dan kaitannya dengan kejadian autisme.

 Bahan : Wikipedia, may 2012 and other related references from journals and books reading

Referensi :

  1. ^ a b c Godlee F, Smith J, Marcovitch H (2011). "Wakefield's article linking MMR vaccine and autism was fraudulent". BMJ 342: c7452. doi:10.1136/bmj.c7452. http://www.bmj.com/content/342/bmj.c7452.full.
  2. ^ Black C, Kaye JA, Jick H (August 2002). "Relation of childhood gastrointestinal disorders to autism: nested case-control study using data from the UK General Practice Research Database". BMJ 325 (7361): 419–21. doi:10.1136/bmj.325.7361.419. PMC 119436. PMID 12193358. http://www.pubmedcentral.nih.gov/articlerender.fcgi?tool=pmcentrez&artid=119436.
  3. ^ Deer, Brian (2004-02-22). "Revealed: MMR research scandal". The Sunday Times (London). http://www.timesonline.co.uk/tol/life_and_style/health/article1027636.ece. Retrieved 2010-03-02.
  4. ^ McKee, Maggie (2004-03-04). "Controversial MMR and autism study retracted". New Scientist. http://www.newscientist.com/article.ns?id=dn4743. Retrieved 2007-08-10.

         Andrew Wakefield, John Walker-Smith & Simon Murch" (PDF). briandeer.com
         http://briandeer.com/solved/gmc-charge-sheet.pdf. Retrieved 2011-01-0
         Retrieved 2010-01-28.
     9. ^ a b Triggle, Nick (2010-01-28). "MMR scare doctor 'acted unethically', panel finds". BBC News
         http://news.bbc.co.uk/2/hi/health/8483865.stm. Retrieved 2010-01-28.
     10. ^ Boseley, Sarah (2010-01-28). "Andrew Wakefield found 'irresponsible' by GMC over MMR 
          wakefield-mmr-vaccine. Retrieved 2011-01-09.
     11. ^ a b The Editors Of The Lancet (February 2010). "Retraction—Ileal-lymphoid-nodular 
          (9713): 445. doi:10.1016/S0140-6736(10)60175-4. PMID 20137807
          Determination of Serious Professional Misconduct" (PDF). General Medical Council
          09-18.
     13. ^ a b c d Meikle, James; Boseley, Sarah (2010-05-24). "MMR row doctor Andrew Wakefield 
           doctor-andrew-wakefield-struck-off. Retrieved 2010-05-24.
     14. ^ "Study linking vaccine to autism was fraud". Associated Press. NPR. 2011-01-06
           autism-was-fraudulent. Retrieved 2011-01-06.
     15. ^ Rose, David (2010-02-03). "Lancet journal retracts Andrew Wakefield MMR scare paper"
          Times Online (London). Archived from the original on 2010-02-03
     18. ^ Poland GA, Jacobson RM (2011-01-13). "The Age-Old Struggle against the Antivaccinationists"
           N Engl J Med 364 (2): 97–9. doi:10.1056/NEJMp1010594. PMID 21226573
     19. ^ a b Deer, Brian (2009-02-19). "Hidden records show MMR truth". Sunday Times (London)
         2011-01-07.
          release). PRNewswire. 2011-01-13. http://pharmalive.com/News/index.cfm?articleid=755079
          Retrieved 2011-01-13.
     22. ^ [unreliable source?]Godlee, Fiona (2011-02-07). "BMJ replies to emails". BMJ (London)
           http://www.bmj.com/content/342/bmj.c7452.full/reply. Retrieved 2011-04-12.













Kamis, 26 April 2012

Mencari sebab musabab Autisme


      In search of Autism… :

Mencari sebab musabab Autisme pada anak ....

Hasil research bersama antara The National Institute of Neurological  Disorders and Stroke (NINDS) dan NIH’s Autism Coordinating Committee pada tahun 2000:

 - Hubungan koneksi serotonin yang terganggu pada autisme
 - Pemetaan bagian otak yang abnormal yang menjadi penyebab autisme
 - Bagian otak yang aktif selama terjadi obsesesif / kebiasaan mengulang suatu tindakan atau  
    perbuatan pada orang dewasa dan anak penderita autisme pada usia yang masih sangat muda    

   (FDA files\Research into Autism_Help, Support and Information on Autism ,6/20/2007)     


Penelitian terhadap penyebab Autisme :

          Faktor genetik pada autisme  

          Waktu dimana terjadi gejalah pertama autisme (home movie/video studies)

          Hubungan korelasi antara vaksin MMR dan autisme

          Sistem saraf pada anak dengan kelainan autisme

          Pengaruh obat Thalidomide dan infeksi alamiah rubella

        (Vaccines: What You Should Know, 3rd edition, Paul A. Offit and Louis M. Bell, 2003)



Faktor genetik pada autisme :

          Cara terbaik untuk menentukan faktor genetik pada suatu penyakit adalah memeriksa angka kejadian penyakit tersebut pada kembar identik dan kembar fraternal.

          Pada autisme (definisi yang ketat):

-                                  Satu anak yang autisme dari pasangan kembar, maka sekitar 60 % kembar identik dan 0  
                   % kembar fraternal akan menderita autisme

          Pada autisme (definisi luas: ASD):
             - sekitar 92 % kembar identik dan 10 % kembar fraternal akan menderita  autisme   

                (Vaccines: What You Should Know, 3rd edition, Paul A. Offit and Louis M. Bell, 2003)


Waktu terjadi gejalah pertama dan waktu pemberian vaksinasi MMR :

          Untuk mendeteksi gejalah pertama autisme adalah melalui video yang dibuat dirumah tentang perkembangan bayi

          Ahli tumbuh kembang bayi dapat membedakan anak autisme daripada anak non autisme pada saat mereka berusia 1 tahun melalui penelitian video tersebut 

          Penelitian ini bisa menemukan gejalah autisme yang sulit dideteksi yang sudah terlihat sejak awal sebelum kita mulai mencurigainya

          Pemberian vaksinasi MMR tidak mendahului terjadinya gejalah pertama autisme

                (Vaccines: What You Should Know, 3rd edition, Paul A. Offit and Louis M. Bell, 2003)



Kelainan perkembangan neurologi dan paparan zat racun atau infeksi virus :

Dalam penelitian ditemukan fakta bahwa paparan zat racun dan kejadian infeksi virus  penyebab kelainan perkembangan saraf dan meningkatkan angka kejadian kelainan autisme pada bayi baru lahir :    
  
          Anak anak yang terpapar obat thalidomide pada awal trimester pertama atau trimester kedua masa kehamilan ibu  
          Anak dengan gejalah rubella kongenital bawaan    

Gejalah autisme terjadi pada awal kehidupan bayi, sedangkan pemberian vaksin yang mengandung Thimerosal, dalam hal ini vaksin MMR, baru diberikan pada saat bayi berusia minimal 9 bulan, sehingga jelas berlawanan dengan anggapan bahwa vaksin adalah penyebab autisme pada bayi  

(Vaccines: What You Should Know, 3rd edition, Paul A. Offit and Louis M. Bell, 2003)



Tinjauan keamanan penggunaan Thimerosal oleh Institute Of Medicines (IOM) :

          Tinjuan pertama pada 2001 untuk melihat kemungkinan hubungan antara autisme dan penggunaan vaksin MMR

          Tinjuan kedua pada tahun 2004 untuk melihat hubungan sebab akibat penggunaan Thimerosal  dengan gangguan perkembangan saraf pada kejadian autisme, Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) dan gangguan kemampuan bicara dan bahasa si anak  

               (FDA files\FDA-CBER – Thimerosal in Vaccine 6/20/2007)



Hasil dari tinjauan pertama Institute of Medicine (IOM):

          IOM menyimpulkan bahwa:

1.       bukkti bukti tidak cukup kuat untuk menerima atau menolak hubungan sebab akibat  penggunaan vaksin yang mengandung Thimerosal dengan terjadinya autisme pada bayi 
    
2.       Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk bisa menentukan menerima atau menolak hubungan sebab akibat penggunan vaksin dengan kandungan Thimerosal dengan terjadinya autisme pada bayi

Tinjuan ini dilakukan IOM pada tahun 2001

                       (FDA files\FDA-CBER – Thimerosal in Vaccine 6/20/2007)



Hasil tinjuan kedua  oleh IOM :

          Berdasarkan data epidemiologi terbaru dari Amerika, Denmark, Swedia dan Inggris

          Mekanisme biologi antara vaksin dengan kandungan Thimerosal dan autisme sejak tahun 2001 

          Menyimpulkan bahwa :

1.       Penolakan terhadap kemungkinan hubungan antara thimerosal dalam vaksin dengan terjadinya autisme bayi 

2.       Hipotesa yang mengatakan bahwa adanya hubungan sebab akibat antara thimerosal dengan kejadian autisme hanya teori belaka .

3.       Penolakan terhadap tindakan vaksinasi akan menyebabkan peningkatan penyakit infeksi yang serius seperti campak, pertusis / batuk rejan dan meningitis Hib (re-emerging of infectious diseases)   

                             Review kedua ini dilakukan pada tahun 2004

                              (FDA files\FDA-CBER – Thimerosal in Vaccine 6/20/2007)




Sampai berapa jumlah Thimerosal yang boleh diterima oleh bayi usia 6 bulan pertama ? 

Jumlah keseluruhan pemaparan Thimerosal yang diperkenankan untuk 6 bulan pertama kehidupan seoarng bayi:

          Vaksin yang bebas dari kandungan Thimerosal:
-                                  Vaksin vaksin seperti  DTaP (difteri, tetanus dan pertusis), Hib (hemofilus influenza type    
                   B, MMR (Mum Measles dan Rubella), Polio, Typhoid, Hepatitis A,
-                                   Vaksin Influenza dan Varicella adalah vaksin dengan kandungan Thimerosal 0%

          Vaksin dengan kandung thimerosal rendah (trace amount) :

-          Semua vaksin multi dosis (satu vial vaksin untuk beberapa orang / beberapa kali pemakian

-          Beberapa jenis vaksin Hepatitis B  


Saat ini kandungan maksimum thimerosal dalam vaksin rutin untuk vaksinasi bayi adalah sekitar 28 µg

Sedangkan jumlah rekomendasi EPA untuk pemaparan harian methylmercury adalah:
65 µg / 5 kg BW selama 6 bulan pertama kehidupan bayi 

Sehingga jumlah seluruh Thimerosal yang diterim bayi dalam 6 bulan pertama kehidupannya adalah :

          Untuk vaksin Hepatitis B pediatrik formula 0.5 mL

          Perkiraan berat badan bayi adalah 5 kg, diberikan 3 dosis vaksin Hepatitis B pediatrik pada saat berusia  0 bulan, 1 bulan dan  6 bulan   

          Kandungan thimerosal adalah 50 µg / 0.5 mL

              1.5 mL (3 doses)/ 5 kg / 6 months

              Sekitar 0.179 µg / kg / perhari  

             65 µg / 5 kg Berat Badan pada saat beusia 6 bulan pertama kehidupan bayi    
             (Rekomendasi EPA)  
             

                 (LG Life Science Rep. of Korea)




Kesimpulan :

          Tidak ada bukti ilmiah tentang hubungan antara autisme dengan vaksin yang mengandung thimerosal sebagai zat preservative 

          Thimerosal adalah organomercury dan dimetabolisir menjadi bentuk ethylmercury yang tidak mempunyai efek kumulatif/penimbunan dalam sistim organ tubuh 

          Autisme disebabkan oleh beberapa faktor seperti faktor genetik, infeksi virus dan pemapparan zat racun pada awal kehamilan, makanan yang terkontaminasi dengan methylmercury dan aneka logam berat lainnya 
  
          Perlu penelitain lebih lanjut untuk mencari sebab autisme

          Pada vaksin masa depan dihindarkan pemakai thimerosal atau jenis preservative lainnya
 
          Hal yang perlu kita renungkan adalah pemakaian kosmetik, bahan makanan laut dan tanaman yang telah terkontaminasi dengan zat kimia dan logam berat lainnya juga mungkin menjadi penyumbang cukup berarti untuk menyebabkan tetap meningkatnya kasus autisme bayi meski saat ini pemakaian vaksin dengan kandungan Thimerosal mulai sangat dibatasi bahkan dihindarkan.   


...….unfortunately for parents who will someday bear children diagnosed with autism, the controversy surrounding vaccines has diverted attention and resources away from a number of promising leads….
Mencari sebab musabab autisme pada anak ...



.......sangat disayangkan bagi para orang tua yang suatu hari mungkin memiliki anak yang didiagnosa dengan autisme, soal kontroversial yang meliputi vaksin telah menarik perhatian dan sumber daya yang diperlukan untuk mencari sebab musabab autisme ...
   
                 (Vaccine: what you should know, 3rd edition, Paul A. Offit, MD and Louis M. Bell MD, 2003)










Rabu, 18 April 2012

Keracunan Mercury dan Autisme


  Awal mula cerita keracunan logam berat Methylmercury sejak.... :

          Di Teluk Minamata Jepang, terjadi pembuangan limbah industri mercury kedalam perairan teluk sehingga terjadi kontaminasi ikan laut di teluk Minamata yang terjadi sejak akhir tahun 1950an hingga awal 1960an  (Harada 1995)

          Kejadian di Irak pada tahun 1970an dimana terjadi kontaminasi mercury pada biji gandum yang dioleh menjadi roti (Bakir et al 1973)

          Laporan pertama vaksin (MMR) dengan kandungan Thimerosal oleh Dr. Andrew Wakefield, seorang dokter dari Inggris,  pada tahun 1998, yang menimbulkan heboh besar dan terjadi penolakan vaksin di Inggriis dan beberapa negara lain seperti di negara Skandinavia dengan segala akibat buruk yang mengikutinya.

(Vaccines: What You Should Know, 3rd edition, Paul A. Offit and Louis M. Bell, 2003)


Beberapa gejalah bila terjadi keracunan logam berat Methylmercury ...:

          Adapun janin lebih sensitif terhadap keracunan methylmercury
          Pemaparan ibu hamil terhadap metylmercury dosis tinggi àakan terjadi pemaparan pada janin sehingga terjadi:
-          Kerusakan neurologi / saraf yang serius à terjadi celebral palsy
-          Gangguan fungsi sensorik dan motorik
-          Gangguan perkembangan dan pertumbuhan janin à autisme


Beberapa pendapat pro dan kontra terhadap hubungan autisme dengan Thimerosal ...:

• Laporan pertama tetang vaksin (MMR) dan Thimerosal oleh Dr. Andrew Wakefield pada tahun  

  1998 (Lancet Medical Journal 1998)

• 1 bulan setelah pemberian vaksin MMR maka terjadi gejalah2 :

- Inflamsi / infeksi saluran cerna, terjadi infiltrasi protein berbahaya kedalam otak, sehingga  

  terjadi

- Gangguan perkembangan neurolog / saraf, anak menderita kelainan Autisme, atau juga berupa

- ADHD (Attention Defisit Hyperactivity Disorder)

- Terjadi kelambatan perkembangan kemampuan berbicara dan bahasa

• Hipotesa : hubungan sebab akibat antara Thimerosal dan gangguan perkembangan saraf otak  

   anak(autisme)

(Vaccines: What You Should Know, 3rd edition, Paul A. Offit and Louis M. Bell, 2003)



Beberapa pendapat pro dan kontra terhadap hubungan autisme dengan Thimerosal ...:(lanjutan)

·         Dr. Brent Taylor dan kawan kawannya telah merancang 4 buah uji klinik untuk mencari dan membuktikan teori hipotesa relasi positif antara Thimerosal dengan kejadian autisme di Inggris.

·         Dr. Nathalie Smith

·         Di Denmark dilakukan uji klinik dengan skala besar yang melibatkan 537.000 anak anak, ditemuakn hasil akhir yang menunjukkan bahwa angka kejadian autisme antara anak yang telah divaksinasi dengan yang tidak di vaksinasi adalah sama 



Kesimpulan :  

-          Tidak ditemukan korelasi ilmiah positif antara kejadian autisme dengan vaksinasi yang diberikan pada masa bayi  
-          Jumlah anak penderita autisme tidak sesuai dengan jumlah bayi yang telah mendapat vaksinasi MMR    
-          Inflamsi / infeksi saluran cerna terjadi setelah timbulnya gejalah autisme bukan sebelumnya seperti yang diduga sebelumnya
-          Jumlah kejadian autisme antara bayi yang terima vaksinasi dengan yang tidak menerima vaksinasi tidak dihitung /ditabulasi oleh dr. Andrew Wakefield  

           (semua hasil uji klnik diatas bisa diperoleh dari British Medical Journal dan New    
            England Medical Journal, Edisi November 2002)   
    
                (Vaccines: What You Should Know, 3rd edition, Paul A. Offit and Louis M. Bell, 2003)






Untuk memperkuat bukti bahwa tidak terjadi korelasi positif antara autisme dengan
penggunaan vaksin yang mengandung Thimerosal :

Disini ditunjukan uji klinik yang tidak berhasil menunjukan hubungan korelasi positif
antara autisme dengan Thimerosal :

1.       Stehr-Green et al., 2003 [22], uji klinik Ecological, Sweden and Denmark

2.       Madsen et al., 2003 [23], uji klinik Ecological, Denmark

3.       Fombonne et al., 2006 [9], uji klinik Ecological, Canada

4.       Hviid et al., 2003 [24], uji klinik cohort Retrospective, Denmark

5.       Verstraeten et al., 2003 [25], uji klinik cohort Retrospective, United States

6.       Heron and Golding, 2004 [26], uji klinik cohort Prospective, United Kingdom

7.       Andrews et al., 2004 [27], uji klinik cohort Retrospective, United Kingdom

      (458 • CID 2009:48 (15 February) • VACCINES)




Dengan adanya bukti bukti uji klinik yang retrospektif ataupun yang observasi selama penggunaan vaksin yang mengandung thimerosal sebagai pengawet / preservative, tidak ditemukan adanya korelasi yang positif antara jumlah pemakaian vaksin tersebut dengan peningkatan kasus kasus baru anak dengan kelainan autisme.
Hal demikian juga diamati dan ditemukan di negara negara skandinavia dan Inggris yang pada awalnya menghentikan vaksinasi dengan vaksin yang mengandung thimerosal, sebagai akibat propoganda Dr. Andrew Whitfield tentang hubungan vaksin dengan presevative thimerosal dengan kejadian bayi menderita autisme, namun pada kenyataannya bahwa jumlah anak penderita autisme tetap saja meningkat meskipun penggunaan vaksin dengan kandungan thimerosal telah dihentikan. 
Untuk menanggapi kejadian demikian, barangkali kita perlu memikirkan adanya kemungkinan kontaminasi logam berat mercury ini dalam makanan laut, barang2 alat rumah tangga seperti cairan pembersih rumah tangga, pestisida, pupuk tanaman dan lain2 yang banyak dipergunakan dalam rumah tangga, yang mungkin mengandung mercury, juga kosmetika yang dipergunakan seperti pemutih kulit dan lain lain.