Bekerja dari Rumah Bebas Stress

Travaga - HorizontalSmall

Kamis, 22 Maret 2012

Vaksin penyebab Autisme Anak Anda ?

Tinjauan penggunaan Thimerosal dalam vaksin

Thimerosal atau Thiomersal adalah derivate organo mercury dari ethylmercury yang pertama kali dipergunakan oleh perusahaan Eli Lily pada tahun 1930an dan semenjak itu zat ini telah banyak dipergunakan sebagai preservative dalam berbagai macam vaksin hingga saat ini. 

Tujuan pemakai zat Thimerosal ini adalah untuk:
  1. mencegah pertumbuhan bakteri pathogen ataupun jamur yang barbahaya bila vaksin tersebut telah mengalami pencemaran atau kontaminasi, sewaktu dalam proses pembuatan vaksin, pemakaian vaksin maupun dalam tahap penyimpanan bahan baku vaksin.
  2. dalam beberapa proses produksi vaksin, misalnya vaksin pertusis sel utuh (whole cell), zat Thimerosal dipergunakan untuk menginaktifkan antigen vaksin selain dengan pemanasan  (Guideline on regulatory…)
Zat Thimerosal yang terkandung dalam vaksin memenuhi persyaratan sebagai bahan preservative yang dicantumkan dalamUnited States Pharmacopeia (2004), yaitu pada konsentrasi 0,001 % (1 bagian dalam 100,000) hingga 0,01 % (1 bagian dalam 10,000), efektif membersihkan broad spectrum microorganism yang pathogen.

Vaksin yang mengandung 0,01 % preservative Thimerosal mengandung 50 µg Thimerosal per 0,5 mL dosis atau sekitar 25 µg mercury per 0,5 mL dosis.

Dari sifat Thimerosal yang bakteriostatik dan fungistatik, maka penghilangan Thiemrosal, pengurangan jumlah atau mengganti Thimerosal dengan zat lain yang bersifat sama dalam vaksin yang telah terdaftar, adalah hal yang tidak mudah dilakukan, karena semua segi yang menyangkut sterilitas vaksin, stabilitas vaksin juga efikasi vaksin dan kualitas vaksin harus dikaji ulang dengan penelitian laboratorium dan uji klinik lapangan yang intensif dan teliti. 

Sudah banyak data pre klinik pada beberapa jenis binatang dan manusia, tentang keamanan dan efektifitas Thimerosal yang dipergunakan sebagai preservative ( Powell and Jamieson 1931), semenjak itu Thimerosal juga telah diteliti dengan seksama dan tercatat kemanan dan efektifitas Thimerosal yang dipergunakan untuk mencegah kontaminasi bakteri dan jamur pada vaksin tanpa menimbulkan efek yang berbahaya selain beberapa reaksi local pada tempat suntikan.

Sebaliknya methylmercury adalah neurotoksin. Sifat racun methylmercury pertama kali diketahui pada akhir tahun 1950 dan awal tahun 1960an, ketika limbah industri yang  mengandung mercury dibuang kedalam perairan teluk Minamata di Jepang, yang menimbulkan kontaminasi mercury pada ikan ikan yang dikonsumsi oleh penduduk sekitarnya (Harada 1995). Epidemik keracunan mercury juga terjadi di Irak sekitar 1970an, ketika pembasmi hama yang mengandung methylmercury secara keliriu dipergunakan untuk membasmi hama pada gandum dan gandum tersebut dipergunakan untuk membuat roti. (Bakir et al 1973). Sepanjang episode epidemik tersebut diatas, diketahui bahwa janin lebih  rentan terhadap efek methylmercury daripada orang dewasa. Pemaparan dosis tinggi methylmercury pada ibu menyebabkan kerusakan neurology / saraf yang serius pada janin, seperti misalnya gejalah mirip cerebral palsy, sedangkan pada ibunya hanya terlihat sedikit atau tidak tampak sama sekali gejalah kelainan.

Disfungsi / gangguan fungsi motorik dan sensorik dan keterlambatan perkembangan fungsi neurologik yang paling sering ditemukan pada janin yang sedang tumbuh kembang dalam rahim ibunya yang terpapar dosis rendah methylmercury.  

Issue controversial tentang kandungan Thimerosal dam vaksin pertama dikemukakan pada tahun 1998 oleh Dr. Andrew Wakefield dkk, yang mempublikasikan hasil temuan mereka tentang anak yang menderita autisme setelah 1 bulan mendapatkan vaksin MMR (vaksin campak, campak Jerman dan gondong) yang mengandung Thimerosal sebagai zat preservativenya.

Tetapi pada thaun 1999, Dr. Brent Taylor dkk juga melakukan empat kali penelitian di Inggris untuk membuktikan hubungan kausal / sebab akibat antara Thimerosal dengan autisme, hasil temuan mereka adalah bahwa kejadian autisme dengan vaksinasi yang mengandung Thimerosal adalah tidak berdasar. Hal ini diperkuat lagi oleh penelitian Dr. Nathalie Smith yang menemukan bahwa peningkatan jumlah anak yang mengalami kelainan autisme adalah tidak sebanding dengan jumlah anak yang telah diberikan vaksinasi MMR, hasil penelitian ini telah dipublikasikan di British Medical Journal

Setelah itu juga dilakukan penelitian skala besar yang meliputi 537,000 anak anak Denmark yang telah diberikan vaksinasi MMR ataupun yang tidak, pengamatan selama 6 tahun, hasil temuannya juga mencengangkan, yaitu bahwa jumlah anak yang menderita kelainan autisme adalah sama antara kelompok yang dapat vaksinasi dan kelompok yang tidak mendapat vaksinasi. Temuan ini juga telah dipublikasikan dalam New England Medical Journal, November 2002.


Penelitian Penyebab Autisme.

Dari penelitian macam macam penyebab autisme, ditemukan faktor genetik memegang peranan cukup penting selain faktor eksogen seperti pemaparan dengan zat kimia mercury dan obat obatan thalidomide yang populer pada tahun 1960an.

Dari segi genetik, bila kita memakai definisi autisme yang ketat, maka bila ditemukan satu anak menderita autisme pada kembar identik, maka sekitar 60 % kembar identik dan 0 % fraternal twin akan menderita kelainan autisme.

Bila kita menggunakan definisi autisme yang lebih longgar « autism spectrum disorder », maka akan didapatkan 92 % kembar identik dan 10 % fraternal twin yang akan menderita autisme.

Sehingga ditarik kesimpulan bahwa autisme mempunyai dasar genetik pada anak-anak yang menderita kelainan  tersebut.

Dari rekaman video ulang tahun pertama seorang anak, sering kali bisa terlihat gejala gejala awal dari gangguan neurologik yang sudah terjadi jauh sebelum anak tersebut terpapar dengan zat Thimerosal yang berasal dari vaksin. Hal ini bisa diterangkan bahwa perkembangan organ otak dan saraf adalah pada 24 hari pertama masa pertumbuhan janin dalam kandungan ibunya. Sehingga dengan rekaman video ulang tahun seoramg bayi, maka kita sudah bisa memperkirakan apakah anak ini akan menderita kelaian neurologik (autisme) dikemudian hari. (Vaccine concerns)

Beberapa peneliti juga menganalisa video bayi sejak berusia 2 - 3 bulan kehidupan bayi, dengan tehnik analisa gerakan yang canggih, maka bayi yang nanti akan mengalami kelainan autisme sudah bisa diperkirakan dari rekaman gambar video bayi tersebut pada awal kehidupannya.

Dengan menganalisa rekaman video pada awal kehidupan anak anak, para pakar dapat membedakan dengan tepat mana anak yang mempunyai kelainan autisme dan mana anak yang akan tumbuh normal.

Penemuan diatas memberi bukti bahwa hipotesa yang mengatakan bahwa gejala paling awal dan remeh dari autisme telah mulai timbul sejak dini kehidupan bayi dan membantah penyebab autisme adalah karena vaksin.

Juga beberapa zat toksin atau infeksi virus, dan beberapa kelainan perkembangan sistim saraf pusat yang memberikan dampak autisme, memperkuat fakta bahwa autisme telah berkembang sejak dini sewaktu janin masih dalam kandungan ibunya.

Misalnya janin yang terpapar dengan obat Thalidomide pada trimester pertama atau kedua, janin dengan cacat perkembangan organ telinga dan janin yang menderita sindroma kongenital rubella, akan mempunyai peluang yang lebih besar untuk mengalami kelainan autisme setelah lahir.

Akhir akhir ini kecemasan tentang segi keamanan pemakaian Thimerosal dalam vaksin, terutama untuk vaksin yang diberikan bagi bayi dan anak anak, ini karena adanya data-data toksisitas akibat pemaparan khronik methylmercuri dibahan makanan.

Hal ini telah menimbulkan insiatif beberapa negara untuk menghilangkan, mengurangi jumlah atau mengganti zat Thimerosal dengan zat lain didalam vaksin, baik sediaan dosis gnda ataupun sediaan dosis tunggal.

Reaksi imunitas yang terjadi karena paparan dengan produk mengandung mercury umumnya terjadi pada manusia berupa reaksi alergi hipersensitivitas jenis lambat, namun hal ini bukan penyebab utama timbulnya pertanyaan tentang keamanan vaksin dengan kandungan Thimerosal dan timbulnya gagasan untuk mengganti zat Thimerosal dalam vaksin dengan zat lain yang dianggap lebih aman.

Dari apa yang telah dikemukakan diatas, jelas bahwa kekuatiran tentang toksisitas zat Thimerosal sebetulnya bersifat teoritis saja karena hingga saat ini tidak didapatkan fakta ilmiah yang berkaitan dengan segi keamanan Thimerosal yang digunakan dalam vaksin, meskipun dibeberapa negara tanggapan publik pernah dilaporkan dalam media.

Kebijaksanaan WHO terhadap masalah ini telah ditetapkan dengan jelas bahwa WHO akan tetap merekomendasikan program vaksinasi dunia dengan vaksin yang mengandung zat Thimerosal karena manfaat vaksinasinya melebihi tosisitas teoritis. (Vaccine concerns…)  

Namun semenjak timbulnya issue keamanan vaksin yang mengandung Thimerosal sebagai preservative, sudah banyak pembuat vaksin yang mulai menghilangkan, mengurangi jumlah hingga sangat minimal(trace amount) atau bahkan menggantikan Thimerosal dengan zat preservative lain yang sama baiknya, hanya seperti dikemukakan pada awal hal ini memang tidaklah mudah, sehingga sampai saat ini masih cukup banyak vaksin untuk anak-anak yang masih mengandung Thimerosal sebagai preservative, meskipun dalam jumlah yang sangat minimum (trace amount).

Berhubung tidak adanya penuntun tentang kadar pemaparan ethylmercury (metabolit Thimerosal), maka US Environmental Protection Agency (Mahaffey et al 1997), US Agency for Toxic Substances and Disease Registry (ATSDR 1999), US FDA (Federal Register 1979) dan WHO (WHO 1996) menetapkan rentang dosis paparan adalah antara  0.1 µg / kg  Berat badan / hari (EPA)  hingga 0.47 µg / kg Berat badan / hari (WHO).

Mengacu pada penuntun dosis paparan ini, maka pembuat vaksin yang masih harus memakai Thimerosal sebagai preservative akan membuat vaksin dengan kandungan Thimerosal dengan rentang kandungan yang sesuai dengan penuntun ini.

Contoh vaksin yang masih harus memakai Thimerosal sesuai dengan penuntun ini adalah vaksin Hepatitis B (Korea LG Life Science) yang setiap 0.5 mL vaksinnya mengandung jumlah minimal(trace amount)  Thimerosal sejumlah 0.01 µg, yang bila dihitung akan didapatkan angka mutlak yang jauh lebih kecil berdasarkan rentang dosis paparan anjuran EPA dan WHO, sedangkan mekanisme metabolisme Thimerosal menjadi ethylmercury adalah cukup cepat melalui usus (feces) sehingga kadar kandungan ethylmercury dalam darah bayi tidak pernah melewati ambang kritis.

Dengan demikian vaksin Hepatitis B tersebut adalah tetap cukup aman untuk dipakai sebagai sarana vaksinasi anti hepatitis B, karena:
  1. Kandungan Thimerosal dalam vaksin tersebut dalam jumlah minimum (trace amount) yang cukup efektif sebagai preservative, mencegah akibat buruk bila seandainya telah terjadi kontaminasi dengan bakteri atupun jamur
  2. Dalam setiap 0.5 mL vaksin Hepatitis B (Euvax B, LG Life Science Korea) hanya mengandung 0.01 µg Thimerosal sebagai preservative, yang jumlahnya masih didalam batas rentang aman kandungan mercury untuk diberikan kepada bayi dan anak-anak.  

Suatu saat dimasa depan, semua vaksin akan dibuat dengan tanpa menggunakan preservative Thimerosal, karena sampai saat ini, para ilmuwan masih harus mencari zat preservative yang sama baiknya dengan Thimerosal untuk mencegah akibat buruk bila terjadi kontaminasi vaksin dengan bakteri ataupun jamur, juga menjaga sterilitas fasilitas produksi vaksin, menjaga mutu, stabilitas dan efeikasi vaksin yang dihasilkan untuk menjamin  kesehatan dan keamanan bayi dan anak-anak yang diberikan vaksinasi.



Referensi

  1. 4MyChild: Help and Hope for Life “Autism – What causes autism?”
  2. 4MyChild: Help and Hope for Life “How is Autism Diagnosed? “
  3. 4MyChild: Help and Hope for Life “What Research is being done ?”
  4. 4MyChild:Help amd Hope for Life “What is Thimerosal ?”
  5. Annex 4 Guideline on Regulatory expectations related to the elimination, reduction or replacement of thiomersal in vaccines.
          WHO Technical Report Series, No. 926, 2004

  1. Thiomersal in Vaccines Frequently Asked Questions. FDA/CBER, updated on June 19, 2007
  2. Thiomersal in Vaccines Frequently Asked Questions. FDA/CBER, updated on June 7, 2007
  3. Book:”Vaccines: What You Should Know” 3rd edition. Paul A Offit, MD and Louis M. Bell. MD 2003. www.immunize.org  
  4. “Thimerosal Exposure in Infants and Developmental Disorders: A Retrospective Cohort Study in the United Kingdom  Does not Support a Causal Association”  
          PEDIATRICS Vol. 114 No. 3 september 2004, pp 584 – 591

Nick Andrews, MSc, Elizabeth Miller, MBBS, FRCPath, FFPHM, Andrew Grant, PhD, Julia Stowe, BA, Velda Osborne, BSc and Brent Taylor, PhD, MBCHB   

  1.  “Thimerosal Exposure in Infants and Developmental Disorders: A Prospective Cohort Study in the United Kingdom  Does not Support a Causal Association”  , Jean Golding, DSc and the ALSPAC Study Team
             PEDIATRICS Vol. 114 No. 3 September 2004, pp 577 – 583
             Jon Heron, PhD

Tidak ada komentar:

Posting Komentar